TARI ZAPIN
Zapin
adalah bentuk kesenian Melayu yang sesungguhnya memiliki dua cabang
seni yang saling mengikat. Yaitu seni tari dan seni musik. Musik zapin
memiliki struktur ritem tersendiri yang mengindentifikasikan
keistimewaaannya. Ritem musik zapin yang khas dimunculkan lewat pola
pukulan marwas (marawis) yang saling
berbalas.
Semakin banyak marwas yang dipakai, akan semakin sempit pula ruang
pukulan untuk memunculkan ritem yang khas dalam musik zapin. Marwas
untuk pengiring tari zapin sedikitnya dua buah. Kebanyakan kumpulan
zapin menggunakan tiga sampai lima buah marwas. Pembawa melodi dalam
musik zapin yang paling utama adalah gambus. Oleh sebab itu pula musik
zapin diidentikkan dengan musik gambus. Perkembangan persembahan musik
zapin sekarang menambahkan beberapa alat musik yang sebelumnya dikenal
dalam kesenian ronggeng Melayu. Alat musik tersebut adalah Gendang
Ronggeng (gendang sebelah muka) Accordion dan Biola
Zapin asli (tradisi) selalu dimainkan oleh kaum lelaki baik untuk penari maupun pemusik. Gerak langkahnya terukur karena merupakan gerak berpasangan yang simetri. Gerak langkah zapin dipuntal dalam ragam-ragam tari zapin yang memilahkan beberapa karakter langkah, tehnik atau pola lantai menjadi satu kesatuan ragam. Zapin adalah salah satu bentuk kesenian Melayu yang sangat dikenal di Sumatera Utara. Setiap kali ada perhelatan kebudayaan Melayu, zapin menjadi salah satu materi yang selalu ditampilkan. Daerah-daerah di Sumatera Utara yang dahulunya memiliki kesenian zapin asli (tradisi) adalah Langkat, Binjai, Medan, Deli Serdang, Asahan, Tanjung Balai, Batubara dan Labuhan Batu.
Di Sumatera Utara bila ditelusuri lagi sebenarnya ada satu jenis zapin berkarakter ritme cepat yang pernah ada di desa Nagur Bedagai. Zapin ini kerap disebut zapin Arab, atau masyarakat setempat menyebutnya dengan Sarah atau Hadralmaut. Disebut zapin Arab karena dahulunya dikembangkan oleh pendatang keturunan Arab dari Hadralmaut. Mereka umumnya datang dari Hadralmaut (Yaman) untuk berniaga sembari mengajarkan kebudayaan yang mereka bawa ke pesisir nusantara. Salah satu tempat yang dahulunya disinggahi komunitas pendatang Arab adalah Bedagai. Mereka kemudian mengadakan hubungan perkawinan dengan masyarakat setempat, lama kelamaan zapin Arab diperkenalkan kepada masyarakat Bedagai. Ketika penelitian tentang zapin Arab di Bedagai dilakukan pada tahun 1984 penarinya terdiri dari kaum wanita. Hal ini tidak ditemukan pada zapin Arab di tempat-tempat lain.
Zapin Arab bertempo lebih cepat dari zapin Melayu. Lagu pengiringnya tidak terstruktur seperti zapin Melayu yang sudah dikemas dalam bentuk pantun. Umumnya Zapin Arab tidak diiringi nyanyian berupa pantun. Pola gerak langkah zapin Arab kelihatan lebih lugas dan dinamis, karena dapat mencapai ruang yang lebih lebar dibandingkan zapin Melayu. Meski sekilas seperti gerakan improvisasi permainan kaki, tetapi zapin Arab juga bukan pola gerak kaki sekehendak hati.
Dari pendataan zapin asli di Sumatera Utara, hanya beberapa daerah yang masih menyisakan bentuk zapin asli. Daerah tersebut adalah Rengas Pulau Medan, Pasar Bengkel Perbaungan dan Ujung Kubu Batubara. Satu hal yang tidak dapat ditepiskan bahwa peran pemerintah sangat menentukan terhadap upaya-upaya pelestarian kesenian tradisi termasuk kesenian zapin Melayu. Zapin Ujung Kubu Batubara melalui sanggar Gambus Bahtera Berjaya salah satu yang “selamat” dari adanya peran pemerintah tersebut. Jenis zapin asli dimanapun berada, seharusnya diselamatkan dari ancaman kepunahan semacam itu.
laburannews.com







0 komentar:
Posting Komentar